
MAKALAH
PARASITOLOGI
Entamoeba histolytica
Dosen
Pembimbing
Dr.
Dwi Wahyuni, M. Kes.
Disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah Parasitologi
Disusun
oleh
:
Dian Widyaningtyas (122110101084)
Evita Dwi Afifah (122110101103)
Indri Fahrudiana (122110101202)
FAKULTAS KESEHATAN
MASYARAKAT
KELAS
D
UNIVERSITAS JEMBER
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Entamoeba
histolityca merupakan kelompok rhizopoda yang bersifat patogen
dan menyebabkan penyakit diare amoeba. Diarenya disertai dengan darah dan
lendir. Prevalensi
akibat infeksi Entamoeba histolityca cukup tinggi. Protozoa ini dapat menimbulkan diare bagi penderita,
meskipun tidak tertutup kemungkinan organisme ini hidup secara komensal pada
manusia sehingga tidak memperlihatkan gejala klinis yang khas.
Penyakit infeksi yang
disebabkan oleh protozoa usus amuba, dikarenakan mengkonsumsi makanan atau minuman
yang terkontaminasi oleh adanya protozoa. Kontaminasasi dapat terjadi
dikarenakan sistem pembuangan air kotor dan tinja tidak dikelola dengan baik
sehingga dapat mencemari makanan dan minuman. Selain itu perilaku tidak mencuci
tangan dengan menggunakan sabun setelah buang air besar dan penanganan makanan yang
belum memenuhi aspek sanitasi makanan menyebabkan mikroorganisme penyebab diare
leluasa menginfeksi host (manusia).
Dengan mempelajari Entamoeba
histolytica diharapkan kita mampu menekan terjadinya penularan infeksi Entamoeba
histolytica.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1.2.1
Apa hospes dan nama penyakit dari parasit Entamoeba histolytica?
1.2.2
Bagaimana distribusi geografik dan epidemiologi Entamoeba histolytica?
1.2.3
Bagaimana klasifikasi dan habitat dari
parasit Entamoeba histolytica?
1.2.4
Bagaimana bentuk morfologi dan siklus hidup dari
parasit Entamoeba histolytica?
1.2.5
Bagaimana mekanisme transisi dari
parasit Entamoeba histolytica?
1.2.6
Bagaimana patofisiologi dan gejala klinis dari
parasit Entamoeba histolytica?
1.2.7
Bagaimana diagnosis, prognosis, dan pengobatan dari
parasit Entamoeba histolytica?
1.2.8
Apa usaha yang dilakukan untuk pencegahan parasit Entamoeba histolytica?
1.3
TUJUAN
PENULISAN
Sesuai
dengan permasalahan di atas, tujuan yang dicapai dalam makalah ini adalah sebagai
berikut.
1.3.1
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Parasitologi.
1.3.2
Untuk mengetahui hospes dan nama penyakit dari parasit Entamoeba histolytica.
1.3.3
Untuk mengetahui perkembangan distribusi geografik dan epidemiologi Entamoeba histolytica.
1.3.4
Untuk mengetahui klasifikasi dan habitat dari
parasit Entamoeba histolytica.
1.3.5
Untuk mengetahui bentuk morfologi dan siklus hidup dari
parasit Entamoeba histolytica.
1.3.6
Untuk mengetahui mekanisme transisi dari
parasit Entamoeba histolytica
1.3.7
Untuk mengetahui patofisiologi dan gejala klinis dari
parasit Entamoeba histolytica
1.3.8
Untuk mengetahui diagnosis, prognosis, dan pengobatan dari
parasit Entamoeba histolytica
1.3.9
Untuk mengetahui usaha – usaha yang
dilakukan untuk pencegahan
parasit
Entamoeba histolytica
1.4
MANFAAT
PENULISAN
Makalah
ini memiliki manfaat sebagai berikut.
1.4.1
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat digunakan
sebagai sumber untuk belajar dan lebih memahami
mengenai Entamoeba histolytica.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
HOSPES DAN NAMA PENYAKIT Entamoeba
histolytica
Hospes parasit ini adalah
manusia. Penyakit yang disebabkannya disebut amebiasis.
2.2
DISTRIBUSI GEOGRAFIK DAN EPIDEMIOLOGI Entamoeba
histolytica
Entamoeba histolytica terdapat di seluruh dunia ( kosmopolit
) terutama di daerah tropik dam daerah yang beriklim sedang. Prevalensi di
Amerika Serikat pada tahun 1961 diperkirakan sekitar 3 % - 7% ( Burrows,1961 ).
Data dari CDC ( Centens For Disease
Control ) dari hasil pemeriksaan spesimen di laboratorium kesehatan masyarakat
di Amerika Serikat menunjukkan prevalensi E.
histolytica yang kurang dari 2 %, kecuali di 6 negara bagian yaitu : 2% -
3% di California, Texas, Illioonis dan Pennisylvania ; 4% - 9% di Oklahoma dan
New York ; dan 8% di Arizona. Diperkirakan juga bahwa untuk setiap kasus dengan
kelainan invasi, paling sedikit ada 10 sampai 20 penderita yang mengeluarkan
kista infektif.
Populasi
dengan amoebiasis lebih tinggi ditemukan pada imigran yang berasal dari Amerika
tengah dan selatan juga dari asia tenggara. Penduduk di bagian Tenggara dan
Barat Daya Amerika cenderung mengidap infeksi parasit usus yang lebih tinggi.
Diperkirakan bahwa infeksi di seluruh dunia berkisar antara 3% sampai 10 %.
Penyebaran
Entamoeba histolytica terkait erat dengan buruknya kondisi hygiene dan
sanitasi masyarakat. Tidak tersedianya jamban yang rnemenuhi persyaratan
sanitasi, kebiasaan buang air besar bukan pada tempat yang sebenarnya, pembuangan
sampah sembarangan, pembuangan air kotor yang tidak rnemenuhi persyaratan teknis
kesehatan, dan tidak layaknya keadaan hygiene sanitasi makanan merupakan faktor
utama terjadinya penyebaran penyakit tersebut..
Di
Indonesia penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa (Entamoeba
histolytica) menyebar dan endemis
di daerah perkotaan maupun perdesaan dengan angka insidensi yang cukup tinggi
berkisar antara 10-18%, pada beberapa survei yang dilakukan kepada anak sekolah
menunjukkan frekuensi antara 0,2-50%.7 Dari berbagai survei parasit intestinal,
hasil pemeriksaan tinja diketahui prevalens antara 1- 14%. Demikian juga studi
serologis di daerah perkotaan diperoleh angka yang positif sebesar l,6%--34%.8
Hasil studi di Jawa Tengah diketahui angka seropositif Entamoeba histolytica
pada daerah urban bervariasi dari 4%-34% dengan rata-rata 18%. Studi yang
dilakukan di 7 desa di Kalimantan Selatan, ditemukan 12% dari tinja penduduk
positif E. histolytica.
2.3
KLASIFIKASI DAN HABITAT Entamoeba
histolytica
2.3.1
Klasifikasi Entamoeba
histolytica
Domain : Eukaryota
Filum : Amoebozoa
Kelas : Archamoebae
Ordo : Amoebida
Genus : Entamoeba
Spesies : E. histolytica
2.3.2
Habitat
2.4
MORFOLOGI DAN SIKLUS HIDUP Entamoeba
histolytica
Entamoeba histolytica memiliki
tiga bentuk, yaitu trofozoit, prekista, dan kista. Bentuk trofozoit merupakan
bentuk invasif dan umumnya terdapat di usus besar (dalam jaringan mukosa atau
submukosa), sedangkan kista berada di lumen usus. Entamoeba histolytica dalam bentuk trofozoit mampu bertahan selama
5 jam dalam suhu 37οC, 16 jam dalam suhu 25 οC, 96 jam
dalam suhu 5οC. Sedangkan bentuk kista dapat bertahan selama 2 hari
dalam suhu 37 οC, 7 jam dalam suhu 28 οC, dan dalam 15 –
30 menit pada 4 ppm chlor. Penderita
terinfeksi oleh Entamoeba histolytica karena
tertular bentuk kista matang berinti empat. Proses reproduksi Entamoeba histolytica adalah dengan cara
:
a.
Eksistasi, kista berinti empat yang masuk ke dalam tubuh
membentuk delapan amubula kemudian menjadi bentuk trofozoit, proses ini terjadi
di sekum/ileum.
b.
Enkistasi, dari bentuk tofozoit menjadi kista.
c.
Multiplikasi, terjadinya pembelahan dari trofozoit.
Bentuk trofozoit berukuran antara 15 – 60 μm dan memiliki ektoplasma,
berwarna jernih dan homogen, berfungsi untuk pergerakan (pseudopodi), menangkap
makanan dan membuang sisa – sisa makanan, sebagai alat pernapasan, dan alat
proteksi. Endoplasma berwarna keruh, didalamnya banyak terdapat granula –
granula, vakuola, butir – butir kromatin dan eritrosit, berfungsi mencerna
makanan dan menyimpan makanan. Di dalam nukleus terdapat nukleolus “endosom”
atau “kariosom” dan letaknya ditengah – tengah. Halo, merupakan zona jernih
yang mengelilingi kariosom. Selaput inti, meruapakan kromatin granula yang
tersusun halus dan rata. Dengan melihat nukleus ini kita dapat mengidentifikasi
genus dan spesies.
Bentuk prekista memiliki ektoplasma yang tidak kelihatan, pseudopodi pendek
yang dibentuk secara perlahan – lahan dan memiliki bentuk trofozoit yang bulat
serta merupakan stadium peralihan pada inkistasik. Stadium ini dalam keadaan
pasif. Pada bentuk kista, nukleusnya mempunyai lensa yang terletak di tepi
karena terdesak glikogen vakuola yang besar yang dikelilingi kromidial
berbentuk batang. Dinding dibentuk dari ektoplasma dan berfungsi sebagai alat
pelindung. Kista tidak bergerak dan tidak makan, kista berkembang biak dengan
jalan membela, mula – mula kista berinti 1, kemudian berinti 2, selanjutnya
berinti 4. Kista tersebut berfungsi infeksius dan biasanya tidak memiliki
glikogen vakuola. Stadium kista merupakan stadium menular dan berperan sebagai
penyebar penyakit disentri amebiasis.
2.4.1
Morfologi Entamoeba
histolytica
Amoeba ini memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoitnya memiliki
ciri-ciri morfologi:
1.
Ukuran 10 – 60 μm
2.
Sitoplasma bergranular dan mengandung eritrosit, yang merupakan
penanda penting untuk diagnosisnya
3.
Terdapat satu buah inti entamoeba, ditandai dengan karyosom padat yang
terletak di tengah inti, serta kromatin yang tersebar di pinggiran inti
4.
Bergerak progresif dengan alat gerak ektoplasma yang lebar, disebut
pseudopodia.
Kista Entamoeba histolytica memiliki ciri-ciri
morfologi sebagai berikut:
1.
Bentuk memadat mendekati bulat, ukuran 10-20 μm
2.
Kista matang memiliki 4 buah inti entamoba
3.
Tidak dijumpai lagi eritrosit di dalam sitoplasma
4.
Kista yang belum ma-tang memiliki glikogen (chromatoidal bodies)
berbentuk seperti cerutu, namun biasanya menghilang setelah kista matang.
Dalam peralihan bentuk trofozoit menjadi kista,
ektoplasma memendek dan di dalam sitoplasma tidak dijumpai lagi eritrosit. Bentuk ini
dikenal dengan istilah prekista (dulu disebut minuta). Bentuk prekista dari
Entamoeba histolytica sangat mirip dengan bentuk trofozoit dari Entamoeba coli,
spesies lainnya dari ameba usus. Pada pemeriksaan dengan cairan garam fisiologistrophozoite entamoeba
histolytica mempuyai ukuran sekitar10-60µ.Trophozoite ini bergerak aktif dan
progresif dengan jalan menonjolkan pseupodopinya.Di dalam sitoplasmanya sering
di temukan butir-butir eritrositnya sebagai makanan protozoa ini,namun jarang
sekali ditemukannya bakteri. Vakuolanya juga sulit terlihatpada pemeriksaan
dengan cairan garam fisiologi begitu
juga bentuk nukleusnya. Trophozoite Entamoeba
histolytika dapat di bedakan menjadi bentuk, yaitu bentuk yang invasive dan
bentuk yang non invasive. Keduanya dapat di bedakan pada pemeriksaan mikroskop.
|
PERBEDAAN
|
|
|
Trophozoite Invasif
|
Trophozoite Non Invasif
|
|
Berukuran 20-50 µ
|
Berukuran 20-30 µ
|
|
Memasuki jaringan
|
Hidup di permukaan usus
|
|
Mengandung eritrosit didalam
sitoplasmanya
|
Tidak mengandung eritrosit
|
|
Tidak membentuk cyste
|
Membentuk cyste berukuran lebih dari 10 µ
|
Entamoeba
histolytica mempunyai tiga stadium, yaitu bentuk
histolitika, minuta dan kista. Bentuk histolitika yang bersifat pathogen dan
bentuk minuta yang merupakan bentuk esensial adalah bentuk trofozoit, sedangkan
bentuk kista bukan merupakan bentuk pathogen tapi merupakan bentuk infektif. Dalam daur
hidupya Entamoeba histolytica memiliki 3 stadium yaitu :
1. Bentuk histolitika

2. Bentuk minuta

3. Bentuk kista

Bentuk
histolitika dan bentuk minuta adalah bentuk
rofozoit. Perbedaan antara kedua bentuk tropozoit tersebut adalah bahwa
bentuk histolitika bersifat patogen dan mempunyai ukuran yang lebih besar dari bentuk minuta. Bentuk
histolitika berukuran 20 – 40 mikron, mempunyai inti entamoeba yang terdapat di
endoplasma.Ektoplasma bening homogen terdapat di bagian tepi sel, dapat dilihat
dengan nyata.Pseudopodium yang dibentuk dari ektoplasma, besar dan lebih
seperti daun, dibentuk dengan mendadak, pergerakannya cepat. Endoplasma
berbutir halus, biasanya tidak mengandung bakteri atau sisa makanan, tetapi
mengandung sel darah merah. Bentuk histolytica ini patogen dan dapat hidup
dijaringan usus besar, hati, paru, otak, kulit dan vagina. Bentuk ini
berkembang biak secara belah pasang di jaringan dan dapat merusak jaringan
tersebut sesuai dengan nama spesiesnya Entomoeba histolitica (histo= jaringan,
lysis = hancur).
Bentuk minuta adalah bentuk pokok esensial, tanpa bentuk minuta daur hidup tidak
dapat berlangsung, besamya 10-20 mikron. Inti entamoeba terdapat di endoplasma
yang berbutir-butir. Endoplasma tidak mengandung sel darah merah tetapi
mengandung bakteri dan sisa makanan. Ektoplasma tidak nyata, hanya tampak bila
membentuk pseudopodium. Pseudopodium dibentuk perlahan-lahan sehingga
pergerakannya lambat. Bentuk minuta berkembang biak secara belah pasang dan
hidup sebagai komensal di rongga usus besar, tetapi dapat berubah menjadi
bentuk histolitika yang patogen.
Bentuk kista dibentuk di rongga usus besar, besamya 10 – 20 mikron,
berbentuk bulat lonjong, mempunyai dinding kista dan ada inti entamoeba. Dalam
tinja bentuk ini biasanya berinti 1 atau 2, kadang-kadang terdapat yang berinti
2. Di endoplasma terdapat benda kromatoid yang besar, menyerupai lisong dan
terdapat juga vakuol glikogen. Benda kromatoid dan vakuol glikogen dianggap
sebagai makanan cadangan, karena itu terdapat pada kista muda. Pada kista
matang, benda kromatoid dan vakuol glikogen biasanya tidak ada lagi. Bentuk
kista ini tidak patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif.
Entamoeba
histolytica biasanya hidup sebagai bentuk minuta di
rongga usus besar manusia, berkembang biak secara belah pasang, kemudian dapat
membentuk dinding dan berubah menjadi bentuk kista. Kista dikeluarkan bersama
tinja. Dengan adanya dinding kista, bentuk kista dapat bertahan terhadap
pengaruh buruk di luar tubuh manusia.
Entamoeba
histolytica tidak selalu menyebabkan penyakit. Bila
tidak menyebabkan penyakit, ameba ini hidup sebagai bentuk minuta yang bersifat
komensal di rongga usus besar, berkembangbiak secara belah pasang. Kemudian
bentuk minuta dapat membentuk dinding dan berubah menjadi bentuk kista. Kista
dikeluarkan bersama tinja.Dengan adanya dinding kista, bentuk kista dapat
bertahan terhadap pengaruh buruk di luar badan manusia.Bila kista matang
tertelan, kista tersebut sampai di lambung masih dalam keadaan utuh karena
dinding kista tahan terhadap asam lambung. Di rongga usus halus dinding kista
dicernakan, terjadi ekskistasi dan keluarlah bentuk-bentuk minuta yang masuk ke
rongga usus besar. Bentuk minuta dapat berubah menjadi bentuk histolitika yang
patogen dan hidup di mukosa usus besar dan dapat menimbulkan gejala. Dengan
aliran darah, bentuk histolitika dapat tersebar ke jaringan hati, paru dan
otak. Infeksi terjadi dengan menelan kista matang.
2.4.2
Siklus Hidup Entamoeba
histolytica

Siklus hidup dimulai dari manusia menelan
makanan/minuman yang terkontaminasi oleh parasit tersebut, di lambung parasit
tersebut tercerna, tinggal bentuk kista yang berinti empat (kista masak) yang
tahan terhadap asam lambung masuk ke usus. Disini karena pengaruh enzym usus
yang bersifat netral dan sedikit alkalis, dinding kista mulai melunak, ketika
kista mencapai bagian bawah ileum atau caecum terjadi excystasi menjadi empat
amoebulae. Amoebulae tersebut bergerak aktif, menginvasi jaringan dan membuat
lesi di usus besar kemudian tumbuh menjadi trophozoit dan mengadakan
multiplikasi disitu, proses ini terutama terjadi di caecum dan sigmoidorectal
yang menjadi tempat habitatnya. Dalam pertumbuhannya amoeba ini mengeluarkan
enzym proteolytic yang melisiskan jaringan disekitarnya kemudian jaringan yang
mati tersebut diabsorpsi dan dijadikan makanan oleh amoeba tersebut. Amoeba
yang menginvasi jaringan menjalar dari jaringan yang mati ke jaringan yang
sehat, dengan jalan ini amoeba dapat memperluas dan memperdalam lesi yang
ditimbulkannya, kemudian menyebar melalui cara percontinuitatum, hematogen
ataupun lymphogen mengadakan metastase ke organ-organ lain dan menimbulkan
amoebiasis di organ-organ tersebut. Metastase tersering adalah di hepar
terutama lewat hematogen.
Setelah beberapa waktu oleh karena beberapa keadaan,
kekuatan invasi dari parasit menurun juga dengan meningkatnya pertahanan dan
toleransi dari host maka lesi mulai mengadakan perbaikan. Untuk meneruskan
kelangsungan hidupnya mereka lalu mengadakan encystasi, membentuk
kista yang mula-mula berinti satu, membelah menjadi dua, akhirnya menjadi
berinti empat kemudian dikeluarkan bersama-sama tinja untuk membuat siklus
hidup baru bila kista tersebut tertelan oleh manusia.
Parasit ini mengalami fase pre dan meta dalam daur
hidupnya yaitu:
Trophozoit — Precyste — Cyste — Metacyste —– Metacyste Trophozoit.
Trophozoit yang mengandung beberapa nukleus (uni nucleate
trophozoit) kadang tinggal di bagian bawah usus halus, tetapi lebih sering
berada di colon dan rectum dari orang atau monyet serta melekat pada mukosa.
Hewan mamalia lain seperti anjing dan kucing juga dapat terinfeksi. Trophozoit
yang motil berukuran 18-30 um bersifat monopodial (satu pseudopodia besar).
Cytoplasma yang terdiri dari endoplasma dan ektoplasma, berisi vakuola makanan
termasuk erytrocyt, leucocyte, sel epithel dari hospes dan bakteria. Di dalam
usus trophozoit membelah diri secara asexual. Trophozoit menyusup masuk ke
dalam mukosa usus besar di antara sel epithel sambil mensekresi enzim
proteolytik. Di dalam dinding usus tersebut trophozoit terbawa aliran darah
menuju hati, paru, otak dan organ lain. Hati adalah organ yang paling sering diserang
selain usus. Di dalam hati trophozoit memakan sel parenkim hati sehingga
menyebabkan kerusakan hati. Invasi amoeba selain dalam jaringan usus disebut
amoebiasis sekunder atau ekstra intestinal. Trophozoit dalam intestinal akan
berubah bentuk menjadi precystic. Bentuknya akan mengecil dan berbentuk spheric
dengan ukuran 3,5-20 um. Bentuk cyste yang matang mengandung kromatoid untuk
menyimpan unsur nutrisi glycogen yang digunakan sebagai sumber energi. Cyste
ini adalah bentuk inaktif yang akan keluar melalui feses.
Cyste sangat tahan terhadap bahan kimia tertentu. Cyste dalam air
akan bertahan sampai 1 bulan, sedangkan dalam feses yang mengering dapat
bertahan sampai 12 hari. Bila air minum atau makanan terkontaminasi oleh cyste
E. histolytica, cyste akan masuk melalui saluran pencernaan menuju ileum dan
terjadi excystasi, dinding cyste robek dan keluar amoeba “multinucleus
metacystic” yang langsung membelah diri menjadi 8 uninucleat trophozoit muda
disebut “amoebulae”. Amoebulae bergerak ke usus besar, makan dan tumbuh dan
membelah diri asexual. Multiplikasi (perbanyakan diri) dari spesies ini terjadi
dua kali dalam masa hidupnya yaitu: membelah diri dengan “binary fission” dalam
usus pada fase trophozoit dan pembelahan nukleus yang diikuti dengan cytokinesis
dalam cyste pada fase metacystic.
2.5
MEKANISME TRANSISI Entamoeba
histolytica
Amoebiasis tersebar luas
diberbagai negara di seluruh dunia. Pada berbagai survey menunjukkan
frekuensi diantara 0,2 – 50 % dan berhubungan langsung dengan sanitasi lingkungan
sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik dan subtropik
yang sanitasinya jelek, dan banyak dijumpai juga dirumah-rumah
sosial, penjara, rumah sakit jiwa dan lain-lain. Sumber
infeksi terutama “carrier“ yakni penderita amoebiasis tanpa gejala klinis yang dapat
bertahan lama megeluarkan kista yang jumlahnya ratusan ribu perhari. Bentuk
kista tersebut dapat bertahan diluar tubuh dalam waktu yang lama.
Kista dapat menginfeksi manusia melalui makanan atau sayuran dan
air yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung kista. Infeksi
dapat juga terjadi dengan atau melalui vektor serangga seperti lalat dan kecoa (lipas)
atau tangan orang yang menyajikan makanan (food handler) yang menderita sebagai “carrier”,
sayur-sayuran yang dipupuk dengan tinja manusia dan selada buah yang ditata
atau disusun dengan tangan manusia. Bukti-bukti tidak langsung
tetapi jelas menunjukkan bahwa air merupakan perantara penularan.
Sumber air minum yang terkontaminasi pada tinja yang berisi kista
atau secara tidak sengaja terjadi kebocoran pipa air minum yang berhubungan
dengan tangki kotoran atau parit. Penularan diantara
keluarga sering juga terjadi terutama pada ibu atau pembantu rumah
tangga yang merupakan “carrier”, dapat mengkontaminasi makanan sewaktu menyediakan
atau menyajikan makanan tersebut. Pada tingkat keadaan sosio
ekonomi yang rendah sering terjadi infeksi yang disebabkan berbagai
masalah, antara lain :
- Penyediaan air bersih,
sumber air sering tercemar.
- Tidak adanya jamban,
defikasi disembarang tempat, memungkinkan amoeba dapat dibawa
oleh lalat atau kacoa.
- Pembuangan sampah yang
jelek merupakan tempat pembiakan lalat atau lipas yang berperan
sebagai vektor mekanik.
Pengandung kista yang jumlahnya
besar dan penderita dalam keadaan konvalesensi merupakan bahaya
potensial yang merupakan sumber infeksi dan harus diobati dengan sempurna karena
keduanya merupakan masalah kesehatan yang besar. Kista dapat hidup
lama dalam air (10 – 14 hari). Dalam lingkungan yang dingin dan lembab
kista dapat hidup selama kurang lebih 12 hari, kista juga tahan terhadap Khlor
yang terdapat dalam air leding dan kista akan mati pada suhu 50o
C atau dalam keadaan kering. Entamoeba histolytica ini juga
menyebabkan Dysenteriae amoeuba, abses hati dan Giardia lamblia yang
banyak ditemukan pada anak-anak. Infeksi juga ditularkan dalam bentuk kista,
sehingga pengandung kista adalah penting dalam penyebaran penyakit ini. Di
Indonesia, amoebiasis kolon banyak dijumpai dalam keadaan endemi. Prevalensi Entamoeba
histolytica di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara 10 – 18 %. Amoebiasis
juga tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada berbagai survey menunjukkan
frekuensi diantara 0,2 – 50 % dan berhubungan dengan sanitasi lingkungan sehingga
penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik dan subtropik yang
sanitasinya jelek.
Di RRC, Mesir, India dan negeri
Belanda berkisar antara 10,1 – 11,5%, di Eropa Utara 5 – 20%, di Eropa
Selatan 20 – 51% dan di Amerika Serikat 20%. Frekuensi infeksi
Entamoeba histolytica diukur dengan jumlah pengandung kista. Perbandingan
berbagai macam amoebiasis di Indonesia adalah sebagai berikut, amoebiasis kolon
banyak ditemukan, amoebiasis hati hanya kadang-kadang amoebiasis otak lebih
jarang lagi dijumpai.
2.6
PATOGENESIS DAN GEJALA KLINIS Entamoeba
histolytica
2.6.1
Patogenesis Entamoeba
histolytica
1.
Primer
Pada fase ini penderita
mengalami amebiasis intestinal. Organ yang diserangnya terutama bagian sekum
dan bagian – bagian lain yang sangat bergantung pada resistensi hospes,
virulensi dari strain ameba, kondisi lumen usus/dinding usus (infeksi atau
tidaknya dinding usus), kondisi makanan (jika makanan banyak mengandung
karbohidrat, ameba tersebut menjadi patogen), dan keadaan flora normal usus.
Interaksi ameba dengan bakteri
– bakteri tertentu akan mengaktifkan sifat ameba sehingga menimbulkan lesi pada
usus yang umumnya sampai mencapai mukosa. Gambaran lesi pada usus (mukosa)
menunjukkan nekrosis tanpa reaksi peradangan, kecuali ada infeksi sekunder.
Pada keadaan lanjut, proses ini
dapat sampai ke submukosa dan dari sini ameba masuk ke sirkulasi darah,
selanjutnya akan timbul lesi – lesi ekstra – intestinal. Bentuk lesi berupa
settle neck ulcus. Infeksi sekunder biasanya oleh kuman – kuman Clostridium perfringens, Shigella, dan
umunya berprognosis buruk karena terjadi gangren usus, dan sering menyebabkan
kematian. Pada ulkus yang dalam (sampai mencapai submukosa), sering terjadi
pendarahan. Ini dapat dilihat pada feses penderita, yang kadang – kadang
ditemukan adanya sel – sel mukosa. Disamping itu, ulkus yang dalam ini juga
dapat menyebabkan perforasi sehingga prognosisnya menjadi buruk.
2.
Sekunder
Ini terjadi pada amebiasis
ekstra – intestinal. Proses ekstra – intestinal ini dapat terjadi akibat
penyebaran parasit secara hematogen. Organ yang sering terkena adalah hati yang
menimbulkan amebik hepatis dan selanjutnya menimbulkan abses hepatikum. Abses
hepatikum ini dapat tunggal atau multipel dan terjadi pada 85 % lobus hati.
Selanjutnya dapat terjadi pula ameba ekspansi karena pecahnya abses hati atau
penyebaran melaui hematogen, ke pleura, paru, kulit. Ulserasi pada sigmoid dan
rektum dapat menyebabkan komplikasi atau ekspansi ke vagina bagi penderita
wanita. Proses amebiasis ekstra – intestinal dapat terjadi sebagai berikut.
a.
Amebiasis hati terjadi karena abses hati teruatama pada
posteosuperior lobus kanan, dengan gejala nyeri daerah hipokondrium kanan,
demam disertai ikterus, hepatomegali (diare dan disentri negatif), jika tidak
diobati absess berkembang ke berbagai arah yang akan menyebabkan abses organ
sekitar. Kompikasi pecahnya abses hati kanan mengakibatkan kelainan kulit,
paru, rongga pleura kanan, diafragma, dan rongga peritoneum.
b.
Amebiasis kulit terjadi karena abses hati kanan pecah
sehingga mengakibatkan granuloma kuitis.
c.
Amebiasis paru
terjadi karena abses hati pecah, kemudian masuk ke daerah organ paru,
menyebabkan sputum menjadi berwarna cokelat merah tua dan dapat ditemukan
trofozoit pada bahan sputum.
d.
Amebiasis pleura kanan terjadi karena abses hati kanan
pecah dan menyerang empiema toraks.
e.
Diafragma terkena jika abses hati kanan pecah, kemudian
terjadi abses subfrenik.
f.
Ronnga peritonium dapat terkena jika abses hati kanan
pecah dan menyerang bagian rongga peritonium sehingga menyebabkan peritonitis
umum.
g.
Amebiasis serebral terjadi karena komplikasi dari abses
hati atau dari paru (kasus jarang).
h.
Abses limpa, terjadi karena komplikasi amebiasis hati
atau penularan langsung dari trofozoit kolon.
Jika komplikasi terjadi karena pecahnya abses hati kiri, akan terjadi
kelainan pada daerah lambung, rongga perikardium, kulit, dan rongga pleura
kiri, yang mengakibatkan gejala klinis pada lambung (dapat terjadi
hematemesis), rongga perikardium (perikarditis purulen yang dapat menyebakan
kematian), atau amebiasis organ lain (amebiasis paru).
2.6.2
Gejala klinis Entamoeba
histolytica
Gejala
klinis dari infeksi dengan entamoeba histolytica sangat bervariasi tergantung
pada :
- Starin E.histolytica yang menginfeksi e.histolytica dari strai
yang invasive lebih berbahaya dari pada yang noninvasive karena dapat menimbulkan
disetri,abses pada hati ganguan paru dan lain sebagainya. Walaupun
demikian prosentasi mereka yang
terinfeksi sebagainya. Walaupun demikian prosentasi
mereka yang terinfeksi
dengan srain yang invasive tidak begitu banyak. Kebanyakan
terinfeksi strain non invasif yang
hanya menimbulkan gejala minimal atau atau asimptomatis.
- Intensitas dari
infeksi.semakin hebat infeksi yang di alami tentu saja dapat
mengakibatkan ganguan yang lebih hebat.
- Normal flora pada hots.seperti telah di bicarakan dalam bab
sebelunya bahwa normal flora memengan pentingnya peranan pada daya tahan
tubuh manusia.Banyaknya normal flora mampu melindungi hots dari dari
hebatnya suatu infeksi karena akan terjadi kompontensi antara parasit dan
normal flora.
- Faktor-faktor pada hots..faktor hots yang mempengaruhi
pertahanan tubuh dan kaitanyadengan intense parasit dengan di bahasnya
lebih rinci pada bab yang terdahulu.
- Tempat infeksi itu sendiri.E histolytica terutama yang invasive
dapat menyrerang banyak target organ mulai dari,usus sampai otak karena
kemapuan parasit ini masuk ke dalam peredaran darah dan mulai menyerang
hots karena telah menguasai peredaran darah.pada otak dapat menyebabkan
abses pada otak.
Sebagian besar
penderita amoebiasis tidak memiliki gejala atau asimptomatis namun mereka yang terinfeksi dengan strain
invasive dapat menimbulkan gejala yang
beraneka ragam baik yang baik di dalam
usus maupun di luar usus.
Bentuk klinis yang dikenal ada dua, yaitu amebiasis
intestinal dan amebiasis ekstra intestinal. Amebiasis kolon intestinal terdiri
dari amebasis kolon akut dan amebasis kolon menahun. Amebasis kolon akut
gejalanya berlangsung kurang dari satu bulan, biasa disebut disentri ameba
memiliki gejala yang jelas berupa sindrom disentri. Amebasis kolon menahun
gejalanya berlangsung lebih dari satu bulan, disebut juga koletis ulserosa
amebic, gejalanya bersifat ringan dan tidak begitu jelas.
Amebasis ekstra intestinal terjadi jika amebasis kolon
tidak diobati. Dapat terjadi secara hematogen, melalui aliran darah atau secara
langsung. Hematogen terjadi bila amoeba telah masuk di submukosa porta ke hati
dan menimbulkan abses hati, berisi nanah warna coklat. Cara langsung terjadi
bila abses hati tidak diobati sehingga abses pecah, dan abses yang keluar
mengandung ameba yang dapat menyebar kemana-mana.
Kolitis akut merupakan amobiasis intestinal dengan masa inkubasi
sekitar 8 hari.gejala pertama penyakit ini adalah sakit perut hebat, demam, nausea, sakit kepala, dan tenesmus. Dehidrasi
mungkin saja terjadi pada mereka yang sedang mengalami diare
berkepanjangjan.pada umunya tinja
penderita mengandung darah dan lender.pada infeksi yang berat jarang di temukan
kerusakan mukosa usus yang hebat sampai terjadi perforasi dan peritonitis.Kalau
terjadi perlakuan pada usus dengan bentuk seperti botol dengan tepi yang agak
menebal dan agak meninggi. Lama - kelamaan luka tersebut dapat menjadi abses.
Masa akut penderita yang diserang Entamoeba histolytica terjadi
pada masa inkubasi antara 1 – 4 minggu, yang ditandai dengan disentri berat,
feses sedikit berdarah, nyeri dan demam, dehidrasi, toksemia, kelemahan badan
nampak nyata, pemeriksaan jumlah leukosit berkisar antara 7.000 – 20.000/mm3
dan ditemukannya bentuk trofozoit pada feses encer penderita. Gejala
klinis yang terjadi bergantung pada lokasi invasi Entamoeba histolytica, dan dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1. Amebik diare, merupakan gejala yang terbanyak (50%),
dengan sifat diare yang sering, terutama berisi mukosa dan darah (jumlah feses
hanya sedikit), kadang – kadang dapat terjadi obstipasi.
2. Amebik disentri, defekasi sering, ada demam, ada
tenesmus, feses terdiri dari sel mukosa dan darah.
3. Amebik apendisitis, prosesnya akut/kronis, tanpa ada
demam, pemberian antibiotika tidak efektif, merupakan kontra – indikasi untuk
operasi.
4. Amebik pada sekum dan kolon asendens, amebik ini
menimbulkan peradangan pada sekum dan kolon asendens.
5. Amebik granuloma, terjadi karena adanya penebalan
pada dinding kolon akibat amebiasis kronis. Biasanya terjadi di sekum sampai
rektum, dan ameba ini harus dibedakan dengan karsinoma.
2.7
DIAGNOSIS, PROGNOSIS DAN PENGOBATAN Entamoeba
histolytica
2.7.1
Diagnosis Entamoeba
histolytica
- Amebiasis kolon akut
Diagnosis klinis ditetapkan bila terdapat sindrom
disentri disetai sakit perut (mules). Biasanya gejala diare berlangsung tidaak
lebih dari 10 kali sehari. Gejala tersebut dapat dibedakan dari gejala penyakit
disentri basilaris. Pada disentri basilaris terdapat sindrom disentri dengan
diare yang lebih sering, kadang – kadang sampai lebih dari 10 kali sehari,
terdapat juga demam dan leukositosis. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan
menemukakan Entamoeba histolytica
bentuk histolitika dalam tinja.
- Amebiasis kolon menahun
Biasanya terdapat gejala doare yang ringan diselingi
dengan obstipasi. Dapat juga terjadi suatu eksaserbasi akut dengan sindrom
disentri. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolitika
dalam tinja. Bila ameba tidak ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulangi 3
hari berturut – turut. Reaksi serologi prlu dilakukan untuk menunjang
diagnosis. Proktoskopi dapat digunakan untuk melihat luka yang terdapat di
rektum dan untuk melihat kelainan di sigmoid digunakan sigmoidoskopi.
- Amebiasi hati
Secara klinis dapat dibuat diagnosis bila terdapat gejala
berat badan menurun, badan terasa lemas, demam, tidak nafsu makan disertai
pembesaran hati yang nyeri tekan. Pada pemeriksaan radiologi biasanya
didapatkan peninggian diafragma. Pemeriksaan darah menunjukkan adanya
leukositosis.
Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolitika dalam biopsi dinding abses
atau dalam aspirasi nanah abses. Bila ameba tidak ditemukan, dilakukan
pemeriksaan serologi, antara lain tes hemaglutinasi tidak langsung atau tes
imunodifusi.
2.7.2
Prognosis Entamoeba
histolytica
- Tepatnya terapi
- Resistensi Entamoeba.histolytica terhadap obat
- Letaknya : amebiasis otak jelek
2.7.3
Pengobatan
Pengobatan amoebiasis umumnya menggunakan antibiotik :
- Emetin hidroklorida
Obat ini berkhasiat terhadap bentuk histolitika.
Toksisitasnya relative tinggi, terutama pada otot jantung. Dosis untuk orang dewasa
adalah 65 mg sehari,untuk anak – anak dibawah 8 th 10 mg sehari. Lama pengobatan
4 – 6 hari berturut – turut. Pada orangtua dan orang yang punya sakit berat, pemberian
harus dikurangi. Tidak dianjurkan pada wanita
hamil, penderita gangguan ginjal dan jantung.
- Klorokuin
Obat ini merupakan amebisid jaringan, berkhasiat terhadap bentuk histolitika. Efek samping dan efek toksiknya bersifat ringan,
antara lain mual, muntah, diare, dan sakit kepala. Dosis untuk orang dewasa adalah 1 gr sehari selama 2 hari, kemudian 500 mg sehari selama 2 – 3 minggu. Obat ini juga efektif terhadap amoebiasis hati.
- Antibiotik
Tetrasiklin dan eritromisin bekerja secara tidak langsung
sebagai amebisid dengan mempengaruhi flora usus. Paromomisin bekerja langsung
pada ameba. Dosis yang dianjurkan adalah 25 mg/kg berat badan/hari selama 5
hari, diberikan secara terbagi.
- Metronidazol (Nitroimidazol)
Obat ini
merupakan obat pilihan, karena efektif terhadap bentuk histolitika dan bentuk kista. Efek sampingnya ringan, antara lain mual, muntah dan pusing. Dosis untuk orang dewasa adalah 2 gram sehari selama 3 hari berturut – turut.
2.8
USAHA PENCEGAHAN Entamoeba
histolytica
Cara untuk mencegah agar tidak menderita gangguan yang
disebabkan oleh Entamoeba histolytica antara lain sebagai berikut.
- Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan
daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
- Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
- Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan
menjelang makan atau sesudah buang air besar.
- Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak
menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki
septik, agar tidak mencemari sumber air.
- Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan
pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit
dan mengobatinya dengan obat cacing.
- Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan
berobat ke rumah sakit.
- Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama
sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan
telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya
diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur
memeriksa dan
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Entamoeba histolytica, (Online),
Anonim. 2012. Diagnosis dan Penatalaksanaan Amebiasis, (Online),
(http://www.infokedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-penatalaksanaan-amebiasis.html#more-137), diakses 15 Mei 2013
Asti Dwi Noverina. 2011. Kalsifikasi Entamoeba histolytica, (Online),
(http://navenasvrin.blogspot.com/2011/04/klasifikasi-entamoeba-histolytica.html), diakses 15 Mei 2013
Dominika. 2011. Entamoeba histolytica,
(Online),
(http://dominikaika.wordpress.com/2011/05/24/perkenalan/),
diakses 15 Mei 2013
Gandahusada, Srisasi, dkk. 2009. Parasitologi
Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Muhamad Ibnu Sina. 2010. Entamoeba histolytica, (Online),
(http://referensiartikelkedokteran.blogspot.com/2010/10/infeksi-entamoeba-histolytica.html), diakses 15 Mei 2013
Muslim, H. M. 2009. Parasitologi
Untuk Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
