Powered By Blogger

Kamis, 06 Juni 2013

MAKALAH PARASITOLOGI Entamoeba histolytica


MAKALAH PARASITOLOGI
Entamoeba histolytica

Dosen Pembimbing
Dr. Dwi Wahyuni, M. Kes.

Disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah Parasitologi



Disusun oleh :
Dian Widyaningtyas       (122110101084)
Evita Dwi Afifah            (122110101103)
Indri Fahrudiana            (122110101202)


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
KELAS D

UNIVERSITAS JEMBER
2013

BAB  I
PENDAHULUAN

1.1              LATAR BELAKANG
Entamoeba histolityca merupakan kelompok rhizopoda yang bersifat patogen dan menyebabkan penyakit diare amoeba. Diarenya disertai dengan darah dan lendir. Prevalensi akibat infeksi Entamoeba histolityca cukup tinggi. Protozoa ini dapat menimbulkan diare bagi penderita, meskipun tidak tertutup kemungkinan organisme ini hidup secara komensal pada manusia sehingga tidak memperlihatkan gejala klinis yang khas.
            Penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa usus amuba, dikarenakan mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh adanya protozoa. Kontaminasasi dapat terjadi dikarenakan sistem pembuangan air kotor dan tinja tidak dikelola dengan baik sehingga dapat mencemari makanan dan minuman. Selain itu perilaku tidak mencuci tangan dengan menggunakan sabun setelah buang air besar dan penanganan makanan yang belum memenuhi aspek sanitasi makanan menyebabkan mikroorganisme penyebab diare leluasa menginfeksi host (manusia).
            Dengan mempelajari Entamoeba histolytica diharapkan kita mampu menekan terjadinya penularan infeksi Entamoeba histolytica.

1.2              RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1.2.1        Apa hospes dan nama penyakit dari parasit Entamoeba histolytica?
1.2.2        Bagaimana distribusi geografik dan epidemiologi Entamoeba histolytica?
1.2.3        Bagaimana klasifikasi dan habitat dari parasit Entamoeba histolytica?
1.2.4        Bagaimana bentuk morfologi dan siklus hidup dari parasit Entamoeba histolytica?
1.2.5        Bagaimana mekanisme transisi dari parasit Entamoeba histolytica?
1.2.6        Bagaimana patofisiologi dan gejala klinis dari parasit Entamoeba histolytica?
1.2.7        Bagaimana diagnosis, prognosis, dan pengobatan dari parasit Entamoeba histolytica?
1.2.8        Apa usaha yang dilakukan untuk pencegahan parasit Entamoeba histolytica?

1.3              TUJUAN PENULISAN
Sesuai dengan permasalahan di atas, tujuan yang dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1.3.1        Untuk memenuhi tugas mata kuliah Parasitologi.
1.3.2        Untuk mengetahui hospes dan nama penyakit dari parasit Entamoeba histolytica.
1.3.3        Untuk mengetahui perkembangan distribusi geografik dan epidemiologi Entamoeba histolytica.
1.3.4        Untuk mengetahui klasifikasi dan habitat dari parasit Entamoeba histolytica.
1.3.5        Untuk mengetahui bentuk morfologi dan siklus hidup dari parasit Entamoeba histolytica.
1.3.6        Untuk mengetahui mekanisme transisi dari parasit Entamoeba histolytica
1.3.7        Untuk mengetahui patofisiologi dan gejala klinis dari parasit Entamoeba histolytica
1.3.8        Untuk mengetahui diagnosis, prognosis, dan pengobatan dari parasit Entamoeba histolytica
1.3.9        Untuk mengetahui usaha – usaha yang dilakukan untuk pencegahan parasit Entamoeba histolytica

1.4              MANFAAT PENULISAN
Makalah ini memiliki manfaat sebagai berikut.
1.4.1        Bagi mahasiswa, makalah ini dapat digunakan sebagai sumber untuk belajar dan lebih memahami mengenai Entamoeba histolytica.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1              HOSPES DAN NAMA PENYAKIT Entamoeba histolytica
Hospes parasit ini adalah manusia. Penyakit yang disebabkannya disebut amebiasis.
2.2              DISTRIBUSI GEOGRAFIK DAN EPIDEMIOLOGI Entamoeba histolytica
Entamoeba histolytica terdapat di seluruh dunia ( kosmopolit ) terutama di daerah tropik dam daerah yang beriklim sedang. Prevalensi di Amerika Serikat pada tahun 1961 diperkirakan sekitar 3 % - 7% ( Burrows,1961 ). Data dari CDC  ( Centens For Disease Control ) dari hasil pemeriksaan spesimen di laboratorium kesehatan masyarakat di Amerika Serikat menunjukkan prevalensi E. histolytica yang kurang dari 2 %, kecuali di 6 negara bagian yaitu : 2% - 3% di California, Texas, Illioonis dan Pennisylvania ; 4% - 9% di Oklahoma dan New York ; dan 8% di Arizona. Diperkirakan juga bahwa untuk setiap kasus dengan kelainan invasi, paling sedikit ada 10 sampai 20 penderita yang mengeluarkan kista infektif.
Populasi dengan amoebiasis lebih tinggi ditemukan pada imigran yang berasal dari Amerika tengah dan selatan juga dari asia tenggara. Penduduk di bagian Tenggara dan Barat Daya Amerika cenderung mengidap infeksi parasit usus yang lebih tinggi. Diperkirakan bahwa infeksi di seluruh dunia berkisar antara 3% sampai 10 %.
Penyebaran Entamoeba histolytica terkait erat dengan buruknya kondisi hygiene dan sanitasi masyarakat. Tidak tersedianya jamban yang rnemenuhi persyaratan sanitasi, kebiasaan buang air besar bukan pada tempat yang sebenarnya, pembuangan sampah sembarangan, pembuangan air kotor yang tidak rnemenuhi persyaratan teknis kesehatan, dan tidak layaknya keadaan hygiene sanitasi makanan merupakan faktor utama terjadinya penyebaran penyakit tersebut..
Di Indonesia penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa (Entamoeba histolytica) menyebar dan endemis di daerah perkotaan maupun perdesaan dengan angka insidensi yang cukup tinggi berkisar antara 10-18%, pada beberapa survei yang dilakukan kepada anak sekolah menunjukkan frekuensi antara 0,2-50%.7 Dari berbagai survei parasit intestinal, hasil pemeriksaan tinja diketahui prevalens antara 1- 14%. Demikian juga studi serologis di daerah perkotaan diperoleh angka yang positif sebesar l,6%--34%.8 Hasil studi di Jawa Tengah diketahui angka seropositif Entamoeba histolytica pada daerah urban bervariasi dari 4%-34% dengan rata-rata 18%. Studi yang dilakukan di 7 desa di Kalimantan Selatan, ditemukan 12% dari tinja penduduk positif E. histolytica.

2.3              KLASIFIKASI DAN HABITAT Entamoeba histolytica
2.3.1        Klasifikasi Entamoeba histolytica
Domain           :           Eukaryota
Filum               :           Amoebozoa
Kelas               :           Archamoebae
Ordo                :           Amoebida
Genus              :           Entamoeba
Spesies            :           E. histolytica
2.3.2        Habitat

2.4              MORFOLOGI DAN SIKLUS HIDUP Entamoeba histolytica
Entamoeba histolytica memiliki tiga bentuk, yaitu trofozoit, prekista, dan kista. Bentuk trofozoit merupakan bentuk invasif dan umumnya terdapat di usus besar (dalam jaringan mukosa atau submukosa), sedangkan kista berada di lumen usus. Entamoeba histolytica dalam bentuk trofozoit mampu bertahan selama 5 jam dalam suhu 37οC, 16 jam dalam suhu 25 οC, 96 jam dalam suhu 5οC. Sedangkan bentuk kista dapat bertahan selama 2 hari dalam suhu 37 οC, 7 jam dalam suhu 28 οC, dan dalam 15 – 30 menit pada 4 ppm chlor. Penderita terinfeksi oleh Entamoeba histolytica karena tertular bentuk kista matang berinti empat. Proses reproduksi Entamoeba histolytica adalah dengan cara :
a.       Eksistasi, kista berinti empat yang masuk ke dalam tubuh membentuk delapan amubula kemudian menjadi bentuk trofozoit, proses ini terjadi di sekum/ileum.
b.      Enkistasi, dari bentuk tofozoit menjadi kista.
c.       Multiplikasi, terjadinya pembelahan dari trofozoit.
Bentuk trofozoit berukuran antara 15 – 60 μm dan memiliki ektoplasma, berwarna jernih dan homogen, berfungsi untuk pergerakan (pseudopodi), menangkap makanan dan membuang sisa – sisa makanan, sebagai alat pernapasan, dan alat proteksi. Endoplasma berwarna keruh, didalamnya banyak terdapat granula – granula, vakuola, butir – butir kromatin dan eritrosit, berfungsi mencerna makanan dan menyimpan makanan. Di dalam nukleus terdapat nukleolus “endosom” atau “kariosom” dan letaknya ditengah – tengah. Halo, merupakan zona jernih yang mengelilingi kariosom. Selaput inti, meruapakan kromatin granula yang tersusun halus dan rata. Dengan melihat nukleus ini kita dapat mengidentifikasi genus dan spesies.
Bentuk prekista memiliki ektoplasma yang tidak kelihatan, pseudopodi pendek yang dibentuk secara perlahan – lahan dan memiliki bentuk trofozoit yang bulat serta merupakan stadium peralihan pada inkistasik. Stadium ini dalam keadaan pasif. Pada bentuk kista, nukleusnya mempunyai lensa yang terletak di tepi karena terdesak glikogen vakuola yang besar yang dikelilingi kromidial berbentuk batang. Dinding dibentuk dari ektoplasma dan berfungsi sebagai alat pelindung. Kista tidak bergerak dan tidak makan, kista berkembang biak dengan jalan membela, mula – mula kista berinti 1, kemudian berinti 2, selanjutnya berinti 4. Kista tersebut berfungsi infeksius dan biasanya tidak memiliki glikogen vakuola. Stadium kista merupakan stadium menular dan berperan sebagai penyebar penyakit disentri amebiasis.
2.4.1        Morfologi Entamoeba histolytica
Amoeba ini memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoitnya memiliki
ciri-ciri morfologi:
1.      Ukuran 10 60 μm
2.      Sitoplasma bergranular dan mengandung eritrosit, yang merupakan penanda penting untuk diagnosisnya
3.      Terdapat satu buah inti entamoeba, ditandai dengan karyosom padat yang terletak di tengah inti, serta kromatin yang tersebar di pinggiran inti
4.      Bergerak progresif dengan alat gerak ektoplasma yang lebar, disebut pseudopodia.
 Kista Entamoeba histolytica memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut:
1.      Bentuk memadat mendekati bulat, ukuran 10-20 μm
2.      Kista matang memiliki 4 buah inti entamoba
3.      Tidak dijumpai lagi eritrosit di dalam sitoplasma
4.      Kista yang belum ma-tang memiliki glikogen (chromatoidal bodies) berbentuk seperti cerutu, namun biasanya menghilang setelah kista matang.
Dalam peralihan bentuk trofozoit menjadi kista, ektoplasma memendek dan di dalam sitoplasma tidak dijumpai lagi eritrosit. Bentuk ini dikenal dengan istilah prekista (dulu disebut minuta). Bentuk prekista dari Entamoeba histolytica sangat mirip dengan bentuk trofozoit dari Entamoeba coli, spesies lainnya dari ameba usus. Pada pemeriksaan dengan cairan garam fisiologistrophozoite entamoeba histolytica mempuyai ukuran sekitar10-60µ.Trophozoite ini bergerak aktif dan progresif dengan jalan menonjolkan pseupodopinya.Di dalam sitoplasmanya sering di temukan butir-butir eritrositnya sebagai makanan protozoa ini,namun jarang sekali ditemukannya bakteri. Vakuolanya juga sulit terlihatpada pemeriksaan dengan cairan garam fisiologi begitu  juga bentuk nukleusnya. Trophozoite Entamoeba histolytika dapat di bedakan menjadi bentuk, yaitu bentuk yang invasive dan bentuk yang non invasive. Keduanya dapat di bedakan pada pemeriksaan mikroskop.

PERBEDAAN
Trophozoite Invasif  
Trophozoite Non Invasif
Berukuran 20-50 µ
Berukuran 20-30 µ

Memasuki jaringan
Hidup di permukaan usus

Mengandung eritrosit didalam sitoplasmanya 
Tidak mengandung eritrosit

Tidak membentuk cyste
Membentuk cyste berukuran lebih dari 10 µ


Entamoeba histolytica mempunyai tiga stadium, yaitu bentuk histolitika, minuta dan kista. Bentuk histolitika yang bersifat pathogen dan bentuk minuta yang merupakan bentuk esensial adalah bentuk trofozoit, sedangkan bentuk kista bukan merupakan bentuk pathogen tapi merupakan bentuk infektif. Dalam daur hidupya Entamoeba histolytica memiliki 3 stadium yaitu :
1. Bentuk histolitika
2. Bentuk minuta
3. Bentuk kista
Bentuk histolitika dan bentuk minuta adalah bentuk rofozoit. Perbedaan antara kedua bentuk tropozoit tersebut adalah bahwa bentuk histolitika bersifat patogen dan mempunyai ukuran yang lebih besar dari bentuk minuta. Bentuk histolitika berukuran 20 – 40 mikron, mempunyai inti entamoeba yang terdapat di endoplasma.Ektoplasma bening homogen terdapat di bagian tepi sel, dapat dilihat dengan nyata.Pseudopodium yang dibentuk dari ektoplasma, besar dan lebih seperti daun, dibentuk dengan mendadak, pergerakannya cepat. Endoplasma berbutir halus, biasanya tidak mengandung bakteri atau sisa makanan, tetapi mengandung sel darah merah. Bentuk histolytica ini patogen dan dapat hidup dijaringan usus besar, hati, paru, otak, kulit dan vagina. Bentuk ini berkembang biak secara belah pasang di jaringan dan dapat merusak jaringan tersebut sesuai dengan nama spesiesnya Entomoeba histolitica (histo= jaringan, lysis = hancur).
Bentuk minuta adalah bentuk pokok esensial, tanpa bentuk minuta daur hidup tidak dapat berlangsung, besamya 10-20 mikron. Inti entamoeba terdapat di endoplasma yang berbutir-butir. Endoplasma tidak mengandung sel darah merah tetapi mengandung bakteri dan sisa makanan. Ektoplasma tidak nyata, hanya tampak bila membentuk pseudopodium. Pseudopodium dibentuk perlahan-lahan sehingga pergerakannya lambat. Bentuk minuta berkembang biak secara belah pasang dan hidup sebagai komensal di rongga usus besar, tetapi dapat berubah menjadi bentuk histolitika yang patogen.
Bentuk kista dibentuk di rongga usus besar, besamya 10 – 20 mikron, berbentuk bulat lonjong, mempunyai dinding kista dan ada inti entamoeba. Dalam tinja bentuk ini biasanya berinti 1 atau 2, kadang-kadang terdapat yang berinti 2. Di endoplasma terdapat benda kromatoid yang besar, menyerupai lisong dan terdapat juga vakuol glikogen. Benda kromatoid dan vakuol glikogen dianggap sebagai makanan cadangan, karena itu terdapat pada kista muda. Pada kista matang, benda kromatoid dan vakuol glikogen biasanya tidak ada lagi. Bentuk kista ini tidak patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif.
Entamoeba histolytica biasanya hidup sebagai bentuk minuta di rongga usus besar manusia, berkembang biak secara belah pasang, kemudian dapat membentuk dinding dan berubah menjadi bentuk kista. Kista dikeluarkan bersama tinja. Dengan adanya dinding kista, bentuk kista dapat bertahan terhadap pengaruh buruk di luar tubuh manusia.
Entamoeba histolytica tidak selalu menyebabkan penyakit. Bila tidak menyebabkan penyakit, ameba ini hidup sebagai bentuk minuta yang bersifat komensal di rongga usus besar, berkembangbiak secara belah pasang. Kemudian bentuk minuta dapat membentuk dinding dan berubah menjadi bentuk kista. Kista dikeluarkan bersama tinja.Dengan adanya dinding kista, bentuk kista dapat bertahan terhadap pengaruh buruk di luar badan manusia.Bila kista matang tertelan, kista tersebut sampai di lambung masih dalam keadaan utuh karena dinding kista tahan terhadap asam lambung. Di rongga usus halus dinding kista dicernakan, terjadi ekskistasi dan keluarlah bentuk-bentuk minuta yang masuk ke rongga usus besar. Bentuk minuta dapat berubah menjadi bentuk histolitika yang patogen dan hidup di mukosa usus besar dan dapat menimbulkan gejala. Dengan aliran darah, bentuk histolitika dapat tersebar ke jaringan hati, paru dan otak. Infeksi terjadi dengan menelan kista matang.
2.4.2        Siklus Hidup Entamoeba histolytica
Siklus hidup dimulai dari manusia menelan makanan/minuman yang terkontaminasi oleh parasit tersebut, di lambung parasit tersebut tercerna, tinggal bentuk kista yang berinti empat (kista masak) yang tahan terhadap asam lambung masuk ke usus. Disini karena pengaruh enzym usus yang bersifat netral dan sedikit alkalis, dinding kista mulai melunak, ketika kista mencapai bagian bawah ileum atau caecum terjadi excystasi menjadi empat amoebulae. Amoebulae tersebut bergerak aktif, menginvasi jaringan dan membuat lesi di usus besar kemudian tumbuh menjadi trophozoit dan mengadakan multiplikasi disitu, proses ini terutama terjadi di caecum dan sigmoidorectal yang menjadi tempat habitatnya. Dalam pertumbuhannya amoeba ini mengeluarkan enzym proteolytic yang melisiskan jaringan disekitarnya kemudian jaringan yang mati tersebut diabsorpsi dan dijadikan makanan oleh amoeba tersebut. Amoeba yang menginvasi jaringan menjalar dari jaringan yang mati ke jaringan yang sehat, dengan jalan ini amoeba dapat memperluas dan memperdalam lesi yang ditimbulkannya, kemudian menyebar melalui cara percontinuitatum, hematogen ataupun lymphogen mengadakan metastase ke organ-organ lain dan menimbulkan amoebiasis di organ-organ tersebut. Metastase tersering adalah di hepar terutama lewat hematogen.
Setelah beberapa waktu oleh karena beberapa keadaan, kekuatan invasi dari parasit menurun juga dengan meningkatnya pertahanan dan toleransi dari host maka lesi mulai mengadakan perbaikan. Untuk meneruskan kelangsungan hidupnya mereka lalu mengadakan encystasi, membentuk kista yang mula-mula berinti satu, membelah menjadi dua, akhirnya menjadi berinti empat kemudian dikeluarkan bersama-sama tinja untuk membuat siklus hidup baru bila kista tersebut tertelan oleh manusia.
Parasit ini mengalami fase pre dan meta dalam daur hidupnya yaitu:
Trophozoit Precyste Cyste Metacyste —– Metacyste Trophozoit.
Trophozoit yang mengandung beberapa nukleus (uni nucleate trophozoit) kadang tinggal di bagian bawah usus halus, tetapi lebih sering berada di colon dan rectum dari orang atau monyet serta melekat pada mukosa. Hewan mamalia lain seperti anjing dan kucing juga dapat terinfeksi. Trophozoit yang motil berukuran 18-30 um bersifat monopodial (satu pseudopodia besar). Cytoplasma yang terdiri dari endoplasma dan ektoplasma, berisi vakuola makanan termasuk erytrocyt, leucocyte, sel epithel dari hospes dan bakteria. Di dalam usus trophozoit membelah diri secara asexual. Trophozoit menyusup masuk ke dalam mukosa usus besar di antara sel epithel sambil mensekresi enzim proteolytik. Di dalam dinding usus tersebut trophozoit terbawa aliran darah menuju hati, paru, otak dan organ lain. Hati adalah organ yang paling sering diserang selain usus. Di dalam hati trophozoit memakan sel parenkim hati sehingga menyebabkan kerusakan hati. Invasi amoeba selain dalam jaringan usus disebut amoebiasis sekunder atau ekstra intestinal. Trophozoit dalam intestinal akan berubah bentuk menjadi precystic. Bentuknya akan mengecil dan berbentuk spheric dengan ukuran 3,5-20 um. Bentuk cyste yang matang mengandung kromatoid untuk menyimpan unsur nutrisi glycogen yang digunakan sebagai sumber energi. Cyste ini adalah bentuk inaktif yang akan keluar melalui feses.
            Cyste sangat tahan terhadap bahan kimia tertentu. Cyste dalam air akan bertahan sampai 1 bulan, sedangkan dalam feses yang mengering dapat bertahan sampai 12 hari. Bila air minum atau makanan terkontaminasi oleh cyste E. histolytica, cyste akan masuk melalui saluran pencernaan menuju ileum dan terjadi excystasi, dinding cyste robek dan keluar amoeba “multinucleus metacystic” yang langsung membelah diri menjadi 8 uninucleat trophozoit muda disebut “amoebulae”. Amoebulae bergerak ke usus besar, makan dan tumbuh dan membelah diri asexual. Multiplikasi (perbanyakan diri) dari spesies ini terjadi dua kali dalam masa hidupnya yaitu: membelah diri dengan “binary fission” dalam usus pada fase trophozoit dan pembelahan nukleus yang diikuti dengan cytokinesis dalam cyste pada fase metacystic.

2.5              MEKANISME TRANSISI Entamoeba histolytica
Amoebiasis tersebar luas diberbagai negara di seluruh dunia. Pada berbagai survey menunjukkan frekuensi diantara 0,2 – 50 % dan berhubungan langsung dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek, dan banyak dijumpai juga dirumah-rumah sosial, penjara, rumah sakit jiwa dan lain-lain. Sumber infeksi terutama “carrier“ yakni penderita amoebiasis tanpa gejala klinis yang dapat bertahan lama megeluarkan kista yang jumlahnya ratusan ribu perhari. Bentuk kista tersebut dapat bertahan diluar tubuh dalam waktu yang lama. Kista dapat menginfeksi manusia melalui makanan atau sayuran dan air yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung kista. Infeksi dapat juga terjadi dengan atau melalui vektor serangga seperti lalat dan kecoa (lipas) atau tangan orang yang menyajikan makanan (food handler) yang menderita sebagai “carrier”, sayur-sayuran yang dipupuk dengan tinja manusia dan selada buah yang ditata atau disusun dengan tangan manusia. Bukti-bukti tidak langsung tetapi jelas menunjukkan bahwa air merupakan perantara penularan. Sumber air minum yang terkontaminasi pada tinja yang berisi kista atau secara tidak sengaja terjadi kebocoran pipa air minum yang berhubungan dengan tangki kotoran atau parit. Penularan diantara keluarga sering juga terjadi terutama pada ibu atau pembantu rumah tangga yang merupakan “carrier”, dapat mengkontaminasi makanan sewaktu menyediakan atau menyajikan makanan tersebut. Pada tingkat keadaan sosio ekonomi yang rendah sering terjadi infeksi yang disebabkan berbagai masalah, antara lain :
  1. Penyediaan air bersih, sumber air sering tercemar.
  2. Tidak adanya jamban, defikasi disembarang tempat, memungkinkan amoeba dapat dibawa oleh lalat atau kacoa.
  3. Pembuangan sampah yang jelek merupakan tempat pembiakan lalat atau lipas yang berperan sebagai vektor mekanik.
Pengandung kista yang jumlahnya besar dan penderita dalam keadaan konvalesensi merupakan bahaya potensial yang merupakan sumber infeksi dan harus diobati dengan sempurna karena keduanya merupakan masalah kesehatan yang besar. Kista dapat hidup lama dalam air (10 – 14 hari). Dalam lingkungan yang dingin dan lembab kista dapat hidup selama kurang lebih 12 hari, kista juga tahan terhadap Khlor yang terdapat dalam air leding dan kista akan mati pada suhu 50o C atau dalam keadaan kering. Entamoeba histolytica ini juga menyebabkan Dysenteriae amoeuba, abses hati dan Giardia lamblia yang banyak ditemukan pada anak-anak. Infeksi juga ditularkan dalam bentuk kista, sehingga pengandung kista adalah penting dalam penyebaran penyakit ini. Di Indonesia, amoebiasis kolon banyak dijumpai dalam keadaan endemi. Prevalensi Entamoeba histolytica di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara 10 – 18 %. Amoebiasis juga tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada berbagai survey menunjukkan frekuensi diantara 0,2 – 50 % dan berhubungan dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek.
Di RRC, Mesir, India dan negeri Belanda berkisar antara 10,1 – 11,5%, di Eropa Utara 5 – 20%, di Eropa Selatan 20 – 51% dan di Amerika Serikat 20%. Frekuensi infeksi Entamoeba histolytica diukur dengan jumlah pengandung kista. Perbandingan berbagai macam amoebiasis di Indonesia adalah sebagai berikut, amoebiasis kolon banyak ditemukan, amoebiasis hati hanya kadang-kadang amoebiasis otak lebih jarang lagi dijumpai.

2.6              PATOGENESIS DAN GEJALA KLINIS Entamoeba histolytica
2.6.1        Patogenesis Entamoeba histolytica
1.      Primer
Pada fase ini penderita mengalami amebiasis intestinal. Organ yang diserangnya terutama bagian sekum dan bagian – bagian lain yang sangat bergantung pada resistensi hospes, virulensi dari strain ameba, kondisi lumen usus/dinding usus (infeksi atau tidaknya dinding usus), kondisi makanan (jika makanan banyak mengandung karbohidrat, ameba tersebut menjadi patogen), dan keadaan flora normal usus.
Interaksi ameba dengan bakteri – bakteri tertentu akan mengaktifkan sifat ameba sehingga menimbulkan lesi pada usus yang umumnya sampai mencapai mukosa. Gambaran lesi pada usus (mukosa) menunjukkan nekrosis tanpa reaksi peradangan, kecuali ada infeksi sekunder.
Pada keadaan lanjut, proses ini dapat sampai ke submukosa dan dari sini ameba masuk ke sirkulasi darah, selanjutnya akan timbul lesi – lesi ekstra – intestinal. Bentuk lesi berupa settle neck ulcus. Infeksi sekunder biasanya oleh kuman – kuman Clostridium perfringens, Shigella, dan umunya berprognosis buruk karena terjadi gangren usus, dan sering menyebabkan kematian. Pada ulkus yang dalam (sampai mencapai submukosa), sering terjadi pendarahan. Ini dapat dilihat pada feses penderita, yang kadang – kadang ditemukan adanya sel – sel mukosa. Disamping itu, ulkus yang dalam ini juga dapat menyebabkan perforasi sehingga prognosisnya menjadi buruk.
2.      Sekunder
Ini terjadi pada amebiasis ekstra – intestinal. Proses ekstra – intestinal ini dapat terjadi akibat penyebaran parasit secara hematogen. Organ yang sering terkena adalah hati yang menimbulkan amebik hepatis dan selanjutnya menimbulkan abses hepatikum. Abses hepatikum ini dapat tunggal atau multipel dan terjadi pada 85 % lobus hati. Selanjutnya dapat terjadi pula ameba ekspansi karena pecahnya abses hati atau penyebaran melaui hematogen, ke pleura, paru, kulit. Ulserasi pada sigmoid dan rektum dapat menyebabkan komplikasi atau ekspansi ke vagina bagi penderita wanita. Proses amebiasis ekstra – intestinal dapat terjadi sebagai berikut.
a.       Amebiasis hati terjadi karena abses hati teruatama pada posteosuperior lobus kanan, dengan gejala nyeri daerah hipokondrium kanan, demam disertai ikterus, hepatomegali (diare dan disentri negatif), jika tidak diobati absess berkembang ke berbagai arah yang akan menyebabkan abses organ sekitar. Kompikasi pecahnya abses hati kanan mengakibatkan kelainan kulit, paru, rongga pleura kanan, diafragma, dan rongga peritoneum.
b.      Amebiasis kulit terjadi karena abses hati kanan pecah sehingga mengakibatkan granuloma kuitis.
c.        Amebiasis paru terjadi karena abses hati pecah, kemudian masuk ke daerah organ paru, menyebabkan sputum menjadi berwarna cokelat merah tua dan dapat ditemukan trofozoit pada bahan sputum.
d.      Amebiasis pleura kanan terjadi karena abses hati kanan pecah dan menyerang empiema toraks.
e.       Diafragma terkena jika abses hati kanan pecah, kemudian terjadi abses subfrenik.
f.       Ronnga peritonium dapat terkena jika abses hati kanan pecah dan menyerang bagian rongga peritonium sehingga menyebabkan peritonitis umum.
g.      Amebiasis serebral terjadi karena komplikasi dari abses hati atau dari paru (kasus jarang).
h.      Abses limpa, terjadi karena komplikasi amebiasis hati atau penularan langsung dari trofozoit kolon.
Jika komplikasi terjadi karena pecahnya abses hati kiri, akan terjadi kelainan pada daerah lambung, rongga perikardium, kulit, dan rongga pleura kiri, yang mengakibatkan gejala klinis pada lambung (dapat terjadi hematemesis), rongga perikardium (perikarditis purulen yang dapat menyebakan kematian), atau amebiasis organ lain (amebiasis paru).
2.6.2        Gejala klinis Entamoeba histolytica
Gejala klinis dari infeksi dengan entamoeba histolytica sangat bervariasi tergantung pada :
  1. Starin E.histolytica yang menginfeksi e.histolytica dari strai yang invasive lebih berbahaya dari pada yang noninvasive karena dapat menimbulkan disetri,abses pada hati ganguan paru dan lain sebagainya. Walaupun demikian prosentasi  mereka yang terinfeksi sebagainya. Walaupun demikian prosentasi  mereka yang  terinfeksi dengan srain yang invasive tidak begitu banyak. Kebanyakan terinfeksi strain non invasif yang  hanya menimbulkan gejala minimal atau atau asimptomatis.
  2. Intensitas dari  infeksi.semakin hebat infeksi yang di alami tentu saja dapat mengakibatkan ganguan yang lebih hebat.
  3. Normal flora pada hots.seperti telah di bicarakan dalam bab sebelunya bahwa normal flora memengan pentingnya peranan pada daya tahan tubuh manusia.Banyaknya normal flora mampu melindungi hots dari dari hebatnya suatu infeksi karena akan terjadi kompontensi antara parasit dan normal flora.
  4. Faktor-faktor pada hots..faktor hots yang mempengaruhi pertahanan tubuh dan kaitanyadengan intense parasit dengan di bahasnya lebih rinci pada bab yang terdahulu.
  5. Tempat infeksi itu sendiri.E histolytica terutama yang invasive dapat menyrerang banyak target organ mulai dari,usus sampai otak karena kemapuan parasit ini masuk ke dalam peredaran darah dan mulai menyerang hots karena telah menguasai peredaran darah.pada otak dapat menyebabkan abses pada otak.
            Sebagian besar penderita amoebiasis tidak memiliki gejala atau asimptomatis  namun mereka yang terinfeksi dengan strain invasive  dapat menimbulkan gejala yang beraneka ragam baik yang  baik di dalam usus maupun di luar usus.
Bentuk klinis yang dikenal ada dua, yaitu amebiasis intestinal dan amebiasis ekstra intestinal. Amebiasis kolon intestinal terdiri dari amebasis kolon akut dan amebasis kolon menahun. Amebasis kolon akut gejalanya berlangsung kurang dari satu bulan, biasa disebut disentri ameba memiliki gejala yang jelas berupa sindrom disentri. Amebasis kolon menahun gejalanya berlangsung lebih dari satu bulan, disebut juga koletis ulserosa amebic, gejalanya bersifat ringan dan tidak begitu jelas.
Amebasis ekstra intestinal terjadi jika amebasis kolon tidak diobati. Dapat terjadi secara hematogen, melalui aliran darah atau secara langsung. Hematogen terjadi bila amoeba telah masuk di submukosa porta ke hati dan menimbulkan abses hati, berisi nanah warna coklat. Cara langsung terjadi bila abses hati tidak diobati sehingga abses pecah, dan abses yang keluar mengandung ameba yang dapat menyebar kemana-mana.
Kolitis akut merupakan amobiasis intestinal dengan masa inkubasi sekitar 8 hari.gejala pertama penyakit ini adalah sakit perut hebat, demam, nausea, sakit kepala, dan tenesmus. Dehidrasi mungkin saja terjadi pada mereka yang sedang mengalami diare berkepanjangjan.pada umunya  tinja penderita mengandung darah dan lender.pada infeksi yang berat jarang di temukan kerusakan mukosa usus yang hebat sampai terjadi perforasi dan peritonitis.Kalau terjadi perlakuan pada usus dengan bentuk seperti botol dengan tepi yang agak menebal dan  agak meninggi. Lama -  kelamaan luka tersebut dapat menjadi abses.
Masa akut penderita yang diserang Entamoeba histolytica terjadi pada masa inkubasi antara 1 – 4 minggu, yang ditandai dengan disentri berat, feses sedikit berdarah, nyeri dan demam, dehidrasi, toksemia, kelemahan badan nampak nyata, pemeriksaan jumlah leukosit berkisar antara 7.000 – 20.000/mm3 dan ditemukannya bentuk trofozoit pada feses encer penderita. Gejala klinis yang terjadi bergantung pada lokasi invasi Entamoeba histolytica, dan dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1.      Amebik diare, merupakan gejala yang terbanyak (50%), dengan sifat diare yang sering, terutama berisi mukosa dan darah (jumlah feses hanya sedikit), kadang – kadang dapat terjadi obstipasi.
2.      Amebik disentri, defekasi sering, ada demam, ada tenesmus, feses terdiri dari sel mukosa dan darah.
3.      Amebik apendisitis, prosesnya akut/kronis, tanpa ada demam, pemberian antibiotika tidak efektif, merupakan kontra – indikasi untuk operasi.
4.      Amebik pada sekum dan kolon asendens, amebik ini menimbulkan peradangan pada sekum dan kolon asendens.
5.      Amebik granuloma, terjadi karena adanya penebalan pada dinding kolon akibat amebiasis kronis. Biasanya terjadi di sekum sampai rektum, dan ameba ini harus dibedakan dengan karsinoma.

2.7              DIAGNOSIS, PROGNOSIS DAN PENGOBATAN Entamoeba histolytica
2.7.1        Diagnosis Entamoeba histolytica
  1. Amebiasis kolon akut
Diagnosis klinis ditetapkan bila terdapat sindrom disentri disetai sakit perut (mules). Biasanya gejala diare berlangsung tidaak lebih dari 10 kali sehari. Gejala tersebut dapat dibedakan dari gejala penyakit disentri basilaris. Pada disentri basilaris terdapat sindrom disentri dengan diare yang lebih sering, kadang – kadang sampai lebih dari 10 kali sehari, terdapat juga demam dan leukositosis. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukakan Entamoeba histolytica bentuk histolitika dalam tinja.
  1. Amebiasis kolon menahun
Biasanya terdapat gejala doare yang ringan diselingi dengan obstipasi. Dapat juga terjadi suatu eksaserbasi akut dengan sindrom disentri. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolitika dalam tinja. Bila ameba tidak ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulangi 3 hari berturut – turut. Reaksi serologi prlu dilakukan untuk menunjang diagnosis. Proktoskopi dapat digunakan untuk melihat luka yang terdapat di rektum dan untuk melihat kelainan di sigmoid digunakan sigmoidoskopi.
  1. Amebiasi hati
Secara klinis dapat dibuat diagnosis bila terdapat gejala berat badan menurun, badan terasa lemas, demam, tidak nafsu makan disertai pembesaran hati yang nyeri tekan. Pada pemeriksaan radiologi biasanya didapatkan peninggian diafragma. Pemeriksaan darah menunjukkan adanya leukositosis.
Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolitika dalam biopsi dinding abses atau dalam aspirasi nanah abses. Bila ameba tidak ditemukan, dilakukan pemeriksaan serologi, antara lain tes hemaglutinasi tidak langsung atau tes imunodifusi.
2.7.2        Prognosis Entamoeba histolytica
  • Tepatnya terapi
  • Resistensi Entamoeba.histolytica terhadap obat
  • Letaknya : amebiasis otak jelek
2.7.3        Pengobatan
Pengobatan amoebiasis umumnya menggunakan antibiotik :
  1. Emetin hidroklorida
Obat ini berkhasiat terhadap bentuk histolitika. Toksisitasnya relative tinggi, terutama pada otot jantung. Dosis untuk orang dewasa adalah 65 mg sehari,untuk anak – anak dibawah 8 th 10 mg sehari. Lama pengobatan 4 – 6 hari berturut – turut. Pada orangtua dan orang yang punya sakit berat, pemberian harus dikurangi. Tidak dianjurkan  pada wanita hamil, penderita gangguan ginjal dan jantung.
  1. Klorokuin
Obat ini merupakan amebisid jaringan, berkhasiat terhadap bentuk histolitika. Efek samping dan efek toksiknya bersifat ringan,  antara lain mual, muntah, diare, dan sakit kepala. Dosis untuk orang dewasa adalah 1 gr sehari selama 2 hari, kemudian 500 mg sehari selama 2 3 minggu. Obat ini juga efektif terhadap amoebiasis hati.
  1. Antibiotik
Tetrasiklin dan eritromisin bekerja secara tidak langsung sebagai amebisid dengan mempengaruhi flora usus. Paromomisin bekerja langsung pada ameba. Dosis yang dianjurkan adalah 25 mg/kg berat badan/hari selama 5 hari, diberikan secara terbagi.
  1. Metronidazol (Nitroimidazol)
Obat ini merupakan obat pilihan, karena efektif terhadap bentuk histolitika dan bentuk kista. Efek sampingnya ringan, antara lain mual, muntah dan pusing. Dosis untuk orang dewasa adalah 2 gram sehari selama 3 hari berturut turut.


2.8              USAHA PENCEGAHAN Entamoeba histolytica
Cara untuk mencegah agar tidak menderita gangguan yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica antara lain sebagai berikut.
  1. Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
  2. Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
  3. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
  4. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
  5. Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya dengan obat cacing.
  6. Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit.
  7. Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan
BAB III
PENUTUP

3.1       KESIMPULAN
3.2       SARAN






DAFTAR  PUSTAKA

Anonim. 2012. Entamoeba histolytica, (Online),
Anonim. 2012. Diagnosis dan Penatalaksanaan Amebiasis, (Online),
Asti Dwi Noverina. 2011. Kalsifikasi Entamoeba histolytica, (Online),
Dominika. 2011. Entamoeba histolytica, (Online),
Gandahusada, Srisasi, dkk. 2009. Parasitologi Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Muhamad Ibnu Sina. 2010. Entamoeba histolytica, (Online),
Muslim, H. M. 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.